Pilih mana ? Permainan Tradisional atau Permainan Modern

Saat ini mungkin banyak orang tua yang kesulitan mencari ruang terbuka untuk arena bermain bagi buah hatinya karena semakin terbatasnya lapangan di kota-kota besar.  Selain itu juga dengan adanya ketakutan dari orang tua terhadap kondisi sang anak (takut anak-anak mereka terluka, kotor atau kulit anak menjadi terbakar karena bermain di lapangan terbuka ) sehingga muncul aturan / larangan dari orang tua.

Hal tersebut menjadikan banyak orang tua berupaya  memberikan permainan elektronik  / modern yang disukai anak. Padahal permainan ini cenderung membuat anak sulit bersosialisasi sehingga anak menjadi pemalu, penyendiri dan individualistis. Juga makin banyak anak menjadi obesitas karena kurang bergerak.
Permainan modern yang berkembang saat ini meliputi game online, video game / playstation, games HP. Keberadaan Permainan modern lebih menyenangkan dan tidak memakan banyak tenaga karena hanya menekan tombol pada komputer, playstation atau HP.  Namun demikian perlu menjadi perhatian bahwa permainan tersebut hanya berfungsi sebagai hiburan karena tidak menimbulkan keringat yang akan menyehatkan tubuh.

Mari kita bandingkan dengan permainan tradisional, selain bermain kita juga sekaligus olahraga dan bahkan tanpa kita sadari telah melakukan hubungan sosialisasi sedangkan pada game HP/Komputer kita hanya bermain individu yang beralti anda tidak melakukan sosialisasi yang dapat menumbuhkan rasa solidaritas atau kesetiakawanan, rasa empati kepada sesama, keakraban dengan alam dan selalu menjunjung nilai-nilai sportivitas.

Selain itu sisi positif lainnya yang dapat diperoleh dari aneka permainan tradisional tersebut adalah memungkinkan timbulnya inisiatif, kreatifitas anak untuk menciptakan dan inovasi untuk memproduksi sendiri.
Menurut seorang peneliti di Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Unimed “Dengan munculnya daya kreatifitas itu, anak-anak kemudian akan mencoba mencari desain baru dan mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan”.

Selain itu juga disampaikan bahwa aneka permainan anak tradisional itu juga akan menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspressif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logikanya. “Misalnya saja pada permainan Galasing yang harus dimainkan oleh minimal empat orang untuk satu grup. Keempat orang ini akan bahu-membahu mengalahkan lawannya agar jangan sampai melewati daerah yang dijaganya,” katanya. Berbeda halnya dengan permainan anak modern yang semuanya diproduksi oleh pabrik secara massal, sehingga kreatifitas anak untuk menciptakan sendiri permainannya menjadi hilang dan rata-rata permainan tradisional itu dimainkan oleh satu orang saja.

Bermain dengan peralatan seadanyaMenurut Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan, permainan modern cenderung akan menjadikan anak individualis dan berbasis materi.
Anak setiap saat akan meminta uang untuk membeli alat permainannya. Karenanya permainan modern potensial menjadikan anak sebagai generasi yang hanya menuntut, meminta, kurang usaha, tidak inovatif dan tidak kreatif, untuk memproduksi dan mereproduksi apa yang dibutuhkannya, sehingga sudah saatnya orang tua untuk kembali mengajarkan aneka permainan anak tradisional itu kepada anaknya. Karena selain lebih mendidik, aneka permainan tradisional itu juga lebih murah biayanya.

Jika ditinjau dari sudut pandang pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa, fisik dan mental anak, maka Permainan Tradisional memililiki beberapa keunggungan, yaitu :
1. Anak menjadi lebih kreatif
Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya.  Mereka menggunakan barang barang, benda benda atau tumbuhan yang ada di sekitarnya.  Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat alat permainan.  Selain itu permainan tradisional tidak memiliki aturan secara tertulis.  Biasanya aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah umumnya digunakan, ditambah dengan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain.  Di sini juga terlihat bahawa para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.

2. Dapat dipergunakan sebagai terapi terhadap anak
Saat bermain, anak anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa dan bergerak.  Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk anak anak yang memerlukan kondisi tersebut.

3. Mengembangkan kecerdasan majemuk anak
A. Mengembangkan kecerdasan intelektual anak
Permainan tradisional mampu membantu anak untuk mengembangkan kecerdasan intelektualnya, sebab permainan tersebut akan menggali wawasan anak terhadap beragam pengetahuan

B. Mengembangkan kecerdasan emosi dan antar personal anak
Hampir semua permainan tradisional dilakukan secara berkelompok.  Dengan berkelompok maka anak akan (1) mengasah emosinya sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain (2) Nyaman dan terbiasa dalam kelompok

C. Mengembangkan kecerdasan logika anak
Permainan tradisional mampu melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah langkah yang harus dilewatinya.

D. Mengembangkan kecerdasan knestetik anak
Permainan tradisional mampu mendorong pemainnya untuk bergerak, seperti melonpat, berlari, menari, berputar, dan gerakan lainnya.

E. Mengembangkan kecerdasan natural anak
Permainan tradisional mempergunakan alat alat permainan yang dibuat sendiri dari tumbuhan, tanah, genting, batu, pasir sehingga secara tidak langsung akan lebih mendekatkan anak terhadap alam sekitarnya sehingga anak lebih menyatu dengan alam.

F. Mengembangkan kecerdasan spasial anak
Terdapat beberapa Permainan tradisional yang mampu mendorong anak untuk mengenal konsep ruang dan berganti peran (teatrikal)

G. Mengembangkan kecerdasan musikal anak
Nyanyian dan bunyi bunyian sangkat akrab pada permainan tradisional

H. Mengembangkan kecerdasan spiritual anak
Ada beberapa hal dapat dihasilkan dengan adanya permainan tradisional
(1) Permainan tradisional mengenal konsep menang dan kalah. Namun menang dan kalah tidak menjadikan para pemainnya bertengkar atau minder. Bahkan ada kecenderungan orang yang sudah bisa melakukan permainan akan mengajarkan secara tidak langsung kepada teman temannya yang belum bisa.
(2) Permainan tradisional dilakukan lintas usia, sehingga para pemain yang usianya masih belia ada yang menjaganya, yaitu para pemain yang lebih dewasa.
(3) Tidak ada yang paling unggul, karena setiap orang memiliki kelebihan masing masing untuk setiap permainan yang berbeda. Hal tersebut meminimalisir munculnya ego pada diri pemainnya.

Beberapa Contoh Permainan Tradisional

Congklak
Permainan congklak menggunakan papan permainan yang memiliki 14 lubang dan 2 lubang induk yang ukurannya lebih besar. Dimainkan oleh 2 orang. Satu lubang induk terletak pada ujung papan dan lubang induk lainnya terletak di ujung lainnya. Di antara kedua lubang induk terdapat 2 baris yang tiap barisnya berisi 7 lubang yang jumlahnya 14 lubang.
Cara bermain:
Tiap lubang kecil diisi dengan 7 biji yang biasanya terbuat dari kerang atau plastik. Kecuali lubang induk yang dibiarkan kosong. Setelah menentukan siapa yang akan mulai lebih dulu, maka permainan dimulai dengan memilih salah satu lubang dan menyebarkan biji yang ada di lubang tersebut ke tiap lubang lainnya searah jarum jam. Masing-masing lubang diisi dengan 1 biji. Bila biji terakhir jatuh di lubang yang ada biji-bijian lain maka biji yang ada di lubang tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Jangan lupa untuk mengisikan biji ke lubang induk kita setiap melewatinya. Sedangkan lubang induk lawan tidak perlu diisi.

Bila biji terakhir ternyata masuk dalam lubang induk kita, berarti kita bisa memilih lubang lainnya untuk memulai lagi, tetapi bila ternyata saat biji terakhir diletakkan pada salah satu lubang kosong, berarti giliran untuk lawan kita. Bila lubang tempat biji terakhir itu ada di salah satu dari 7 lubang yang ada di baris kita, maka biji yang ada di seberang lubang tersebut beserta 1 biji terakhir yang ada di lubang kosong akan menjadi milik kita dan akan masuk dalam lubang induk kita.

Setelah semua baris kosong, maka permainan dimulai lagi dengan mengisi 7 lubang milik kita, masing-masing dengan 7 biji dari biji yang ada di lubang induk kita. Dimulai dari lubang yang terdekat dengan lubang induk, bila tidak mencukupi maka lubang lainnya dibiarkan kosong dan selama permainan tidak boleh diisi.

Gasing
Gasing menggunakan mainan yang terbuat dari kayu berbentuk kerucut dan tali.

Cara bermain:
Memainkannya adalah dengan memutarnya, dengan cara melilitkan tali pada ujung kerucut, kemudian dilemparkan ke bawah sampai tali tertarik dan gasing berputar. Lemparan juga boleh diarahkan ke gasing lain agar terjatuh. Dibuat lingkaran untuk arena melemparkan gasing. Gasing yang berputar tidak boleh keluar dari lingkaran tersebut. Gasing yang berputar paling lama adalah pemenangnya.

Bekel
Permainan bekel menggunakan bola berwarna-warni yang terbuat dari karet dan biji berbentuk khusus yang terbuat dari kuningan.
Cara bermain:
Setelah menentukan giliran siapa yang mulai lebih dulu, permainan dimulai dengan melemparkan bola keatas dan menghamparkan biji. Setelah bola memantul sekali, bola harus diambil kembali.

Kemudian, pemain harus mengambil satu per satu biji yang terhampar secara langsung. Setelah terambil semua, biji dihamparkan kembali dan diambil kali ini sekaligus dua buah biji. Begitu selanjutnya sampai sejumlah biji yang dimainkan. Setalah mengambil biji secara langsung selesai, maka kini pemain harus mengubah biji menjadi bentuk tertentu sebelum diambil. Urutan posisinya adalah pit (bentuk seperti kursi), ro (kebalikan posisi pit), cin (singkatan licin yaitu posisi miring tanpa ada bintik di permukaan biji) dan peng (singkatan bopeng yaitu posisi miring dengan ada bintik di permukaan biji). Biji yang dipergunakan umumnya berjumlah 6 sampai 10 biji.

Pemain akan kehilangan gilirannya apabila bola memantul lebih dari sekali, tidak dapat menangkap bola, lupa mengubah salah satu biji menjadi posisi tertentu saat sudah mencapai tahap pit, ro, cin atau peng, atau menyentuh biji lain saat mengambil biji yang harus diambil. Pemenangnya adalah yang mencapai tahap paling tinggi.

Petak Umpet
Petak umpet dimainkan oleh banyak anak.
Cara bermain:
Satu orang pemain yang kalah akan menutup matanya pada salah satu tempat yang dianggap sebagai benteng, sementara yang lain mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah menghitung sampai jumlah tertentu, maka mulailah pemain yang menutup mata tersebut mencari tiap orang yang bersembunyi.

Bila telah menemukan orang yang bersembunyi, pencari ini harus cepat-cepat berlari ke benteng sambil menyebut nama orang yang ketahuan persembunyiannya. Begitu juga dengan anak yang ketahuan, karena bila berhasil lebih dulu menyentuh benteng, maka pada tahap selanjutnya dia tidak akan jaga. Anak lain yang bersembunyi dapat pula menyentuh benteng agar tidak jaga pada tahap selanjutnya, asalkan tidak ketahuan dengan pencari.

Setelah semua telah ketahuan persembunyiannya, maka pencari akan menutup matanya kembali pada benteng dan anak-anak lain membentuk barisan di belakangnya. Pencari akan menyebut salah satu nomor. Anak yang ada di urutan nomor yang disebut akan menjadi pihak yang kalah bila tadi dia tidak berhasil lebih dulu mencapai benteng. Sedangkan bila anak pada urutan yang disebut ternyata adalah anak yang berhasil mencapai benteng lebih dulu pada saat ketahuan tempat persembunyiannya, maka si pencari tetap dalam posisi kalah dan permainan dilanjutkan.

Petak Jongkok
Petak jongkok dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu.
Cara bermain:
Tentukan satu orang yang akan mengejar. Untuk menghindari pengejar, setiap anak boleh jongkok. Bila jongkok berarti dia tidak dapat disentuh oleh pengejar. Anak yang berdiri dapat membangunkan anak yang jongkok. Tetapi, anak yang terakhir jongkok berarti akan menjadi pengejar menggantikan pengejar yang lama. Begitu juga dengan anak yang tidak jongkok namun berhasil disentuh oleh pengejar akan menjadi pengejar selanjutnya.

Galah Asin atau Gobak Sodor
Permainan galah asin atau gobak sodor (kadang disebut galasin) ini biasa dilakukan di lapangan. Arena bermain merupakan kotak persegi panjang dan diberi garis di dalamnya.
Cara bermain:
Anak-anak dibagi menjadi 2 tim. Setelah menentukan tim mana yang jaga, permainan dapat dimulai. Anggota tim jaga harus menjaga di masing-masing garis yang telah ditentukan dan boleh bergerak sepanjang garis tersebut untuk menyentuh anggota tim lawan. Tim yang tidak berjaga berdiri di garis yang paling depan dan berusaha menerobos garis-garis tersebut dan tidak boleh sampai tersentuh oleh tim yang jaga.  Setelah berhasil menerobos garis paling akhir, mereka harus berusaha kembali ke tempat pertama mereka mulai. Bila berhasil, mereka akan mendapatkan satu nilai. Sedangkan bila ada anggota tim yang tersentuh berarti giliran berganti. Tim yang tersentuh akan bertugas untuk menjaga. Tim yang menang adalah yang mengumpulkan nilai paling banyak.

Petak Benteng
Permainan berkelompok yang terbagi menjadi 2 tim.
Cara bermain:
Masing-masing tim menentukan bentengnya, dapat berupa pohon, tiang, atau tembok. Mereka berusaha menawan anggota tim lawan agar dapat merebut benteng lawan. Permainan dimulai dengan salah satu anggota keluar dari benteng, maka anggota tim lawan akan berusaha menyentuh orang tersebut. Tetapi anggota tim pertama dapat langsung menyerang dengan berusaha menyentuh pemain yang keluar tersebut begitu pula dengan tim lawan. Untuk menghindari disentuh, mereka dapat kembali ke benteng masing-masing.

Siapa yang tersentuh akan ditawan di benteng lawan. Teman satu tim dapat berusaha menyelamatkan teman-teman yang tertawan dengan mendatangi benteng lawan dan menyentuh teman-temannya, tetapi tentu saja tidak boleh tersentuh lawannya. Harus ada anggota tim yang menjaga bentengnya. Bila benteng lawan tidak ada yang menjaga, maka pemain dapat menyentuh benteng tersebut yang berarti tim tersebut menjadi pemenangnya.

Taplak
Dapat digunakan kapur untuk menggambar arena yang akan digunakan untuk bermain. Arena berbentuk kotak-kotak, ada satu kotak dan kotak yang terbagi 2 dengan gambar setengah lingkaran pada bagian atas yang menyerupai gunung. Ada pula arena bermain yang berbentuk kotak-kotak seperti jaring-jaring kubus.
Cara bermain:
Tiap anak mengambil batu kecil dan berusaha melemparkan ke arena, mulai dari kotak yang pertama. Lalu anak akan berjinjit masuk ke dalam kotak-kotak tersebut. Setalah berhasil sampai ujung, anak akan berusaha kembali ke tempat asal, sampil memungut batu miliknya pada kotak sebelum kotak yang terdapat batu miliknya. Giliran akan berganti bila saat anak berjinjit, dia menyentuh garis atau salah melemparkan batu.

Setelah berhasil menempatkan batu sampai ujung, dia akan mendapatkan bintang. Dimana bintang diletakkan, ditentukan dengan melemparkan batu ke kotak yang diinginkan. Kotak yang terdapat bintang miliknya tidak boleh diinjak oleh lawan-lawannya sehingga akan menyulitkan lawan. Anak yang paling banyak mendapatkan bintang adalah pemenangnya.

Mari Kita Pilih yang mana. Semoga kita bisa menyikapi secara bijaksana, demi kebaikan buah hati.

By Edhi Setiawan dari berbagai sumber

Gallery | This entry was posted in Artikel dan Opini. Bookmark the permalink.

3 Responses to Pilih mana ? Permainan Tradisional atau Permainan Modern

  1. Triztan says:

    saya sedang mencari tahu kira2 apa ya permainan tradisional khas pekalongan ?…untuk dijadikan permainan digital (game)

    • matur nuwun, sudah berkenan mampir ke blok kami.
      sejauh pengetahuan saya, tidak ada permainan khas yang berasal dari pekalongan.
      Permainan tradisional hampir sama dengan permainan dengan daerah lain di jawa tengah.
      Kami memberi apresiasi terhadap keinginan saudara menjadikan permainan khas pekalongan ke dalam permainan digital.
      Maybe mas atau mbak Triztan dapat membuat game congklak menjadi permainan digital, atau kalau mau mengangkat khas pekalongan bisa membuat permainan mewarnai motif motif batik.

  2. Pingback: [EF#15] – Children Games Now and Then | An Inconsistent Boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s